Dinas Perikanan Tanbu Tularkan Ilmu Budidaya Ikan Bioflok ke Sejumlah Desa

Screenshot_20220519-000221_Chrome~2

( BIOFLOK: Dinas Perikanan Kabupaten Tanah Bumbu berhasil membudidayakan kolam ikan dengan sistem bioflok di kantornya – Foto Dok )

WARTACAKRAWALAMEDIA.COM – Setelah berhasil mengelola dan membudidayakan kolam ikan dengan sistem bioflok di kantornya, Dinas Perikanan Kabupaten Tanah Bumbu kini mulai menularkan ilmu dan mengembangkannya hingga ke desa-desa di Bumi Bersujud. Langkah tersebut cukup direspon dan membuahkan hasil positif.

“Belajar dari keberhasilan panen perdana ikan nila yang kami kembangkan di kantor, kolam bioflok di sini dijadikan percontohan untuk perluasan budidaya,” ungkap Kepala Dinas Perikanan Tanah Bumbu, Yulian Herawati, pekan lalu.

Menurutnya, Diskan Tanah Bumbu kini sudah memperluas jaringan pembuatan bioflok ke berbagai desa, baik bagi kelompok maupun perseorangan.
“Tercatat saat ini sudah ada sebanyak 116 kolam milik kelompok desa dan 100 bioflok dibangun secara perseorangan,” terang Herawati.

Dijelaskannya, sebagian besar budidaya didominasi ikan nila, karena lebih menjanjikan. “Hanya ada satu desa yang menambah budidaya ikan lele,” imbuhnya.

Jumlah ini akan segera bertambah menyusul ada berbagai pihak yang sedang proses pembangunan kolam. “Saat ini sudah proses pembuatan,” tegasnya.

Dibeberkannya, keberhasilan ini bukan tanpa perjuangan. Karena tahapan dimulai sejak 2020 lalu. Kemudian 2021 diaplikasikan dan hasilnya hingga 2022 mendapatkan respon positif.
“Desa sangat antusias menerapkan sistem bioflok. Terlebih sejumlah desa punya pasar sendiri ke perusahaan, sehingga semangat memperluas budidaya terbuka lebar,” tandas.

Dengan banyaknya jumlah pembudidaya di daerah ini diharapkan meningkatkan hasil produksi ikan nila untuk mencukupi kebutuhan masyarakat lokal yang cukup banyak peminatnya.

“Selama ini suplai sebagian besar didominasi kiriman dari luar daerah,” pungkasnya.
Sistem bioflok sendiri dinilai lebih efektif dan efesien dibanding cara metode tradisional. Selain hemat lahan, teknologi ini masa panen juga lebih singkat yakni 2 hingga 2,5 bulan.
Bahkan potensi kematian pun sangat kecil dan 99 persen berpeluang hidup. Sehingga wajar budidaya ikan ini mulai dilirik masyarakat.

ini diharapkan meningkatkan hasil produksi ikan nila untuk mencukupi kebutuhan masyarakat lokal yang cukup banyak peminatnya.
“Selama ini suplai sebagian besar didominasi kiriman dari luar daerah,” pungkasnya.

Sistem bioflok sendiri dinilai lebih efektif dan efesien dibanding cara metode tradisional. Selain hemat lahan, teknologi ini masa panen juga lebih singkat yakni 2 hingga 2,5 bulan.
Bahkan potensi kematian pun sangat kecil dan 99 persen berpeluang hidup. Sehingga wajar budidaya ikan ini mulai dilirik masyarakat.

RedWCM
  (Ajie)

Berita Lain